Jawa vs Madura Trending: Ketika Netizen Lebih Suka Baku Hantam Daripada Bakar Jagung
🎧 Dengarkan Rekaman Percakapan (Versi Asisten Kami):
Oleh Tri Lukman Hakim, S.H
Kebencian Akar Dari Suatu Masalah
Menjelang akhir tahun, bukannya sibuk nyari arang buat bakar jagung, netizen +62 malah sibuk nyari musuh. Kali ini, gelanggang media sosial—terutama TikTok dan Facebook—lagi panas-panasnya dengan isu klasik yang digoreng dadakan: Perseteruan Etnis Jawa vs Madura.
Kalau dilihat dari alur kronologinya, pemicunya jelas. Warga mulai resah dengan narasi viral tentang oknum ORMAS (MADAS - Madura Asli) yang dianggap berkeliaran di tanah Jawa dengan arogansi: mulai dari parkir liar, intimidasi, sampai merasa "menguasai" wilayah.
Orang Jawa merasa risih dan terintimidasi, jadilah ribut. Tapi anehnya, ributnya cuma di media sosial aja. Mereka perang ketikan dan lempar kata-kata provokasi di kolom komentar, padahal di dunia nyata mungkin lagi ngopi bareng.
Jujur aja, sebagai penikmat keributan digital, saya ngeliat ini bukan sebagai tragedi budaya, suku, ras, atau adat. Tapi sebagai Komedi Tragis. Kenapa? Karena yang ribut di kolom komentar rata-rata cuma modal jempol doang, tapi lagaknya kayak panglima perang.
Awas! Provokator Berkedok Akun Anonim
Coba perhatikan baik-baik. Siapa yang paling kencang teriak? Rata-rata akun ANONIM atau akun asli tapi diprivat (pilih publish dengan identitas yang disamarkan).
Kita nggak pernah tahu, bisa jadi mereka adalah "penumpang gelap" atau bahkan orang luar yang sengaja mau mengadu domba. Sok-sokan pakai bahasa daerah biar dikira warga lokal asli, padahal zaman sekarang Google Translate udah canggih, Bos! Siapapun bisa pura-pura jadi orang Jawa atau orang Madura dalam hitungan detik.
Ngerinya, narasi yang dibangun selalu ekstrem: "Akan ada Sampit Jilid 2" atau "Sampit sudah kasih contoh cara melawannya".
Ini apa-apaan? Kalian lebih suka lihat pertumpahan darah daripada pertumpahan berkah tahun baru? Otak dipakai, jangan cuma kuota yang diisi!
Sumbu Pendek Warisan Zaman Batu
Entah siapa provokator awalnya, yang jelas polanya selalu sama. Ada satu video/postingan yang nyenggol dikit soal stereotip (entah itu soal "Besi Tua" atau soal "Tuan Tanah"), terus meledaklah amarah suci para "Ksatria Keyboard".
Padahal kalau dipikir pakai logika waras, kita ini sudah mau masuk tahun 2026, Bos! Masih aja ribut soal suku? Di saat negara lain sudah mikirin Artificial Intelligence (AI) dan bikin koloni di Mars, kita masih sibuk debat "Suku A pelit, Suku B keras". Mundur banget mainnya.
Siapa yang Untung? Ya Admin Akun Gosip!
Pepatah lama bilang: "Kalah jadi abu, menang jadi arang". Dalam perang saudara, nggak ada yang untung. Dua-duanya hancur.
Siapa yang untung? Ya penyuplai data
Sadar nggak sih kalian yang lagi capek-capek ngetik caci maki itu lagi dimanfaatkan?
Semakin kalian emosi, semakin kalian share konten provokatif itu, yang kenyang ya si pembuat konten. Engagement naik, AdSense cair, Endorse masuk.
Semakin ramai grup yang komen, semakin cinta algoritma. Dia nggak peduli apa yang dibahas, asal rame, disebar ke penjuru negeri. Admin grup senang bisa tahun baruan di Bromo pakai duit adsense, lah kalian yang ribut di komen? Gatau deh tahun barunya di mana (mungkin di pos ronda sambil emosi).
Kalian dapat apa? Dapat dosa, dapat darah tinggi, sama resiko diciduk Polisi Siber.
Bhinneka Tunggal Ika Cuma Jadi Pajangan?
Ini kritik keras buat kita semua. Katanya Indonesia itu toleran, tapi giliran kesenggol dikit egonya, langsung keluar kata-kata kebun binatang.
Ingat, Jawa dan Madura itu tetangga. Satu pulau (secara teknis jembatan Suramadu nyambungin kita). Tiap hari ketemu di pasar, di kantor, di jalan. Di dunia nyata adem ayem, kenapa di dunia maya kayak mau kiamat?
Penutup: Jangan Mau Jadi Bidak Catur
Udahlah. Simpan tenaga kalian buat hal yang lebih guna. Daripada ribut SARA yang ujung-ujungnya bikin malu bangsa sendiri, mending fokus nyari cuan atau benerin hidup.
Provokator itu senang kalau kalian marah. Jangan kasih panggung.
Saling introspeksi diri aja:
- Yang Pendatang: Jangan jadi jagoan mentang-mentang banyak teman satu klan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
- Yang Tuan Rumah: Jangan jadi jagoan cuma karena ini kandang sendiri. Tamu adalah raja selama tamunya sopan.
Kalau masih nekat mau rasis-rasisan? Silakan. Tapi siap-siap aja Lebaran di sel tahanan. Kalian rasa belum puas dengan artikel ini? Bisa Baca selengkapnya di KunciPro.com.
